Jangan abaikan seteruh waktu
Kapan dan di manapun jelajahki
Cari kesempatan buka memori
Ingat yang ditilam
Tutup dan selamatkan yang dikejar-kejar
Ada kesempatan buruh yang asasi
Biarkan manusia hidup untuk bebas
Bebaskan dari ranjang petir buatan
Dari karya yang mengaruhkan
Tiada waktu tanpa usaha
Buruh waktu demi kebebasan
Tapi bukanlah kebebasan personal
Melainkan kebebasan kolektif
.
Thursday, May 7, 2015
Monday, February 2, 2015
BERSAMA TUHAN
Entalah …
Berbagai cobaan datang,
Bersama kegigihan.
Aku tak akan takut,
Aku bukan milik dia.
Tuhan adalah hidupku.
Dia Sang penopang langkahku.
Aku makhluk ciptaan-Nya,
Aku diciptakan bukan dijadikan.
Betapa berharganya diriku,
Diriku ciptaan secitra dengan-Nya.
Aku bukan binatang,
Mereka itu dijadikan.
Dijadikan demi manusia,
Manusialah kunci menjaga dan memelihara,
Berkarya dan menyelamatkan.
Entalah
Bagimana pun situasi kita,
Tetaplah tegar.
Tegar untuk menjaga dan memelihara,
Tegar demi berkarya dan menyelamatkan mereka.
Apakah itu manusia?
Apakah itu alam?
Bekerja demi mereka,
Itulah yang indah,
Indah didalam Tuhan Sang pencipta dan penyelamat.
Karya: Rafael E Goo
Lapangan Zakheus, 16 September 2013.
AIR MATA KERING
Telah lama ratap air mata ini,
Membanjiri membentuk lautan kesakitan.
Tiada air mata lagi,
Air mata telah kering.
Oleh tangisan setiap detak.
Air mata,
Kini ia telah berubah,
Ia menjadi luka batin.
Yang keluar mata darah,
Darah yang tak bisa dibendung,
Oleh derasnya tindakan otoriter.
Seakan semua mebawa kepada kepunahan,
Marginalisme yang menjadi indah untuk disebut,
Namun apa arti manusia jika demikian?
Tuhan kami,
Apakah Tuhan mau supaya semua ciptaanMu lenyap.
Ataukah Tuhan, ada suatu kesempatan indah?
Yang Tuhan rencanakan bagi kami.
Kami ciptaanMu.
Tuhan
Naungilah kami,
Berkati kami
Limpahkan kuasaMu
Untuk melawan
Untuk mempertahankan
Untuk meperbaiki serta
Merasakan indahnya alam ciptaanMu
Yang Engkau beri bagi kami
Tanpa bercelah dan genab ini.
Karya: Rafael E Goo
Mowanemani, 14 Desember 2011
GEMA NATAL
kelahiranMu Tuhan,
sangat bererti dalam hidup ini.
Hidup yang penuh dalam kecurangan,
Lebih lagi dalam rekayasa dan aneksasi.
Hudup terus mengabdi diri kepada konflik serta kehampaan.
Damaikan daku,
Yang terus berbaur dalam linangan air local,
Oleh perbuatan brutal makan zaman.
Seumpama seorang berjalan dibawah kerikil tajam buatan.
Damai Natal,
Sang Juru Selamat,
Penebus Dosa manusia.
Kapan aku akan mejadi mausia berjiwa?
Manusia yang mempunyai martabat ciptaanMu yang mulia.
Dimana aku mendapatkan nasib kebebasanku?
Tuhan aku percaya,
Engkau penciptaku,
Engkau penebus dunia.
Engkau penyelamat ajaib dan ilahi.
Damai Natal,
Selamatkan dan damaikan daku,
Dari kebiadaban dewa-dewi dunia.
Dari makhluk manusia duniawi,
Yang gila kuasa dan
Gila hormat.
Karya:Rafael E Goo
Wisel Meren, 05 Januari 2010
BERSUARALAH
Bersuaralah,
Selagi Tuhan memberi nafas.
Sementara Ia menyalurkan limpahan kebijaksanaan.
Pada saat ada waktu dan ruang.
Bersuaralah,
Kesempatan hanya datang sekali,
Sebentar ia sudah di liang kubur.
Sebuah masalah lebih indah
Paling indahlah jika diungkapkan
Pendaman melahirkan luka batin.
Ia terkadang tidak bisa diobati
Bersuaralah
Kalau bukan sekarang kapan
Kalau bukan anda siapa
Bersuarahlah
Selagi Tuhan beri nafas
Sementara Ia menyalaurkan limpahan kebijaksanaan
Doaku
Semoga Tuhan menyertaimu.
Karya:Rafael E Goo
Baliem, 07 Februari 2011
BEBAS
Kata orang
Kebebasan ada sejak manusia dilahirkan
Bebas itu sebuah nasib semata-mata dari Tuhan.
Kata hatiku
Benarkah bebas ada seketika itu?
Serasa nasib sial diriku
Tiada kebebasan yang mengembang kosmos sejagadku
Kala manis menjadi pahit
Seketika bebas menjadi derita
Sementara nasib kebebasan diburuh pendusta
Saat-saat itu, hanya sebuah doaku
Yang kupanjatkan pada Tuhan
Sang Kebebasan sejatiku
Tuhan lindungi dan berkatilah daku
Yang dirundung nestapa duka
Dan selalu dihina serta didurjana ini.
Karya:Rafael E Goo
Kimu Pugi, 01 Januari 2012.
NASIB SIAL
Jika segala pepohonan dan tetmbuahan itu manusia,
Mereka akan ku jadikan saksi utama.
Jika rokok harian di mulut bersuara,
Pasti ku jadikan dia hakim.
Jika polisi tidur mampu berkata
Aku menyebutannya, dialah keamanan yang bekerja jujur.
Nasib sial diriku
Jadi buruan yang hendak diburu
Oleh ketidak-adilan dan ketidak-manusiawian.
Hendak ku mengantongi korban kebengisan
Hati terpanah kesakitan
Air mata pun bercucuran
Dirasa hitam jadi gelap
Dirasa buatan keritingnya,
Yang tak tahu apa-apa.
Tetapi kata mereka
Kami adalah Ciptaan Tuhan
Didalam hukumNya, pasti ada kebebasan.
Karya:Rafael E Goo
Manakwari, 13 september 2009.
Subscribe to:
Posts (Atom)