Wednesday, June 6, 2012

SELAMAT JALAN (Untuk Mengenangmu)

Merajanya sang kolonialisme di setiap lorong kehidupan
Nyawa berantakan dalam kelamnya sifat
... Tak pandang manusia sang citra Allah

Hidup ini memang penuh muram
Diliputi awan gelap
Membawa manusia tanpa peduli

Dihempas peluruh negara
Bagai pusaka leluhurnya
Yang tak kenal manusia seperti dirinya

Dituduh yang lain pelakunya
Sampai mengingkari kelakuan pribadi
Yang sebenar-benarnya dia

Selamat jalan kawan
Jika mereka tahu kau manusia
Bukan seperti demikian wafatmu

Pasti kupuji kebesaranmu sebagai manusia
Dan memang kuhargai
Tapi nyatanya mereka tidak menghargai

Kawan, anda bagai hewan
Begitu dipandangan mereka
Nyawamu melayang di pinggiran jalan trotoar

Selamat jalan kawan
Hanya kutitip sebuah doa duka
Tuhan pasti menghargai kemanusiaanmu

Honaratus Pigai
Papua, 04/06/2012.

RATAPAN DALAM HIDUP

Sendiri mengais asa dari lubang kehidupan
Tembok kokoh kini hanya lukisan rapuh yang menggambarkan sarang

... Laba-laba hitam warna kehidupan
Bercatkan air mata dan kuas penderitaan.

Hari mulai senyap
Embun pengharapan kian turun
titik-titik gerimis kian jelas terlihat menatap jauh semu cermin sang jati
diri.

Kaku tuk ucapkan rahasia hati
Menatap jingga dalam pelaminan nestapa,
Mengayuhkan sampan pada titik keabadiaan meratap tangis
Menyayat berbelok ragu pada kenyataan yang belum pernah
teraih.

Kerinduan yg menggumpal bagai penyakit yang menjalar pada
tubuh
Pastikan semuanya akan tiba
Tunggu waktunya

Honaratus pigai
Bukit Keheningan, Port-Numbay (2/06/2012)